Selasa, 11 Mei 2010

MENGAWAL PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DEMI PENYELAMATAN PLANET BUMI

Oleh S.S. Dewi Anggraeni

Planet Bumi yang kita huni dari hari ke hari semakin kehilangan kehijauannya. Dalam hitungan waktu usianya semakin tua dan mengalami kerusakkan secara fisik serta berpotensi terjadinya berbagai bencana alam yang meluluhlantahkan kehidupan dan peradaban makhluk di atasnya.

Sebagai makhluk yang dibekali kemampuan untuk selalu berkembang dan bergerak kearah yang lebih maju. Manusia senantiasa menginginkan perubahan dan kemajuan dalam keseluruhan aspek kehidupannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan pembangunan

Pembangunan secara fisik bagai dua sisi mata uang yang tidak mungkin dilepas salah satunya. Selain memberikan kemanfaatan juga memiliki dampak buruk terhadap lingkungan sebagai ekses yang tidak dapat dihindari.

Perubahan yang dapat menimbulkan kerusakan misalnya karena perlunya pembukaan area hunian, area industri dan jalan baru atau perluasan jalan lama telah mengakibatkan area hijau menjadi semakin berkurang.

Selain itu peningkatan jumlah industri juga menimbulkan masalah polusi yang semakin tak terkendali, meskipun di satu sisi mampu menyerap tenaga kerja dan meredam masalah pengangguran.

Eksploitasi barang tambang selain menghasilkan devisa bagi negara juga menimbulkan perubahan struktur geografis tanah dan kerusakkan akibat proses pengeksploitasian serta dampak polusi yang menyertainya.

Demikian juga pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, bila tidak disertai dengan langkah pelestariannya juga akan menimbulkan masalah berupa kepunahan atau minimal berkurangnya jumlah maupun spesies tertentu di masa yang akan datang.

Seringkali kita baru menyadari dampak buruk dari suatu rencana setelah melihat kerusakkan yang telanjur terjadi dan biasanya bersifat nyata. Sementara perubahan yang sedang berlangsung tidak mungkin dihentikan begitu saja, apalagi kembali ke titik awal. Sikap kehati-hatian dalam setiap perencanaan pembangunan akan menjadi suatu keharusan pointer dalam penyusunan kebijakan pelaksanaan dan pengawasannya.

Pembangunan tidak hanya selesai saat target dan tujuan secara fisik tercapai. Namun harus diingat dan dipikirkan kenyataan baru yang merupakan hasil kelanjutan dari proses pembangunan tersebut. Pembangunan tidak sebatas seremoni “gunting pita” dan kemegahan yang tergambar dalam maket atau proporsal saja,

Selain persiapan sarana dan prasarana pembangunan juga harus dipersiapkan mental pelaksananya. Sehingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan nurani. Segala niat baik yang mengiringi langkah pembangunan tak lepas dari kesadaran untuk menjaga kesinambungan kehidupan itu sendiri.

Sebagai orang awam kita sangat percaya bahwa konsep pembangunan telah dipersiapkan dengan cermat dan matang oleh para ahli dan putra terbaik bangsa. Tujuan dan target pembangunan di setiap tahapannya telah diprediksi dengan perhitungan yang akurat. Demikian juga langkah antisipasi dari kemungkinan dampak yang timbul Namun demikian dalam pelaksanaannya senantiasa membutuhkan pengawasan dari semua lapisan masyarakat sesuai kemampuan dan kesempatan yang dimiliki agar pembangunan berjalan sesuai rencana.

Setiap warga negara hendaknya memahami pentingnya lingkungan bagi kehidupan dan peradaban manusia. Terciptanya rasa tanggung jawab dari para konseptor berlanjut dengan semangat yang amanah dari para pelaksana di lapangan juga pengawasan yang melekat dan konsisten merupakan pola yang sinergi dalam pengawalan pembangunan.

Selain pengawasan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan secara fisik, tak kalah pentingnya adalah pembangunan secara mental bagi keseluruhan warga agar pembangunan fisik yang dilaksanakan bersinergi dengan pembangunan mental sehingga dapat saling mengisi tujuan dan niat pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Pelaksana pembangunan baik birokrat, pejabat maupun aparat memiliki visi dan misi yang sama, yaitu mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan dan keuntungan pribadi. Memiliki pandangan jauh ke depan tentang generasi anak bangsa berikutnya yang memiliki hak sama untuk merasakan kenyamanan dan keamananan hidup di planet bumi ini.

Hasil pembangunan tidak hanya dirasakan oleh satu generasi saja, tetapi juga harus dirasakan oleh generasi yang akan datang. Jangan sampai warisan yang tersisa berupa dampak negatif sebagai akibat dari kerusakkan alam dan lingkungan yang tidak terselamatkan

Pembelajaran mengenai keberadaan dan arti penting lingkungan harus disampaikan sedini mungkin. Kebijakan memasukkan bahasan lingkungan dalam pelajaran di Sekolah Dasar adalah salah satu upaya pemahaman dan pembangunan mental cinta lingkungan sejak awal.

Hal sederhana dan mudah namun memiliki kemanfaatan yang sangat luas serta dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia adalah bersikap “ramah dan sopan” terhadap lingkungan sekitarnya. Bagaimanapun kita sebenarnya sedang ber”tamu” di Planet Bumi, sudah sewajarnya kita menjaga sikap agar tetap diterima dengan baik. Berbagai bencana alam yang terjadi hendaknya dipahami sebagai sinyal reaksi terhadap cara kita memperlakukan alam sekitar.

Sikap ramah dan sopan terhadap lingkungan dapat dikondisikan sejak usia dini melalui pembiasaan sikap sebagai berikut:

a. Sayangi pohon

b. Kelola sampah dengan benar

c. Hemat air, listrik dan BBM

Betapa indahnya saat pembangunan dapat berjalan sesuai rencana serta memberikan hasil selaras dengan tujuan dan kepentingan bersama. Kerusakkan lingkungan dan dampak negatif lainnya dapat diatasi karena semua pihak menyadari pentingnya menyelamatkan lingkungan dan kehidupan di planet bumi yang kita huni.

Semoga!

Bandung timur, 2 Mei 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar