Sabtu, 06 Juni 2009

KEGELAPAN DI DUNIA YANG GEMERLAPAN

Sumber : https://www.kiblat.net/2018/11/22/ketika-hijrah-tergoda-wanita-dan-gemerlap-dunia/


Kita tahu masa sebelum lahirnya rosulullah disebut – sebut sebagai masa jahiliah atau masa kegelapan yang mana pada masa itu benar – benar gelap akan kebenaran. Bermacam bentuk kedzaliman merajalela, lalu Rasulullah dilahirkan di tengah-tengah mereka dengan membawa bermacam pencerahan sehingga masa kebodohan tidak lagi dominan di tengah umat.

Pada masa jahiliah sebelum lahirnya rosulullah Muhammad S.A.W. adalah sisi gelap dalam peradaban dunia, jika kita renungkan dengan seksama mungkin pada masa itu bisa dibilang wajar kalau kebodohan masih memperbudak mereka karena saat itu peradaban tidak seperti sekarang dan Allah belum mengutus Rasul sebagai penyempurna di alam ini. Namun pada masa millennium seperti sekarang ini dimana peradaban manusia telah begitu sangat maju pola pikirnya telah jauh berbeda denga masyarakat yang dulu sebelum Rasul datang, tapi kenapa kejahiliahan itu masih melekat pada diri kita.

وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذۡنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيۡرًا
Wa daa'iyan ilal laahi bi iznihii wa siraajam muniiraa
dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.
Tafsir
dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, agar manusia meninggalkan kebatilan, dan kami juga mengutusmu sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup manusia.
Nabi juga berperan sebagai juru dakwah agama Allah untuk seluruh umat manusia agar mereka mengakui keesaan dan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Juga bertujuan agar manusia beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas; memberi penerangan laksana sebuah lampu yang terang benderang yang dapat mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan, dan menyinari jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang yang beriman agar mereka berbahagia di dunia dan akhirat. Semua tugas Nabi saw itu dilaksanakannya dengan dan perintah izin Allah.
sumber: kemenag.go.id

Pada masa jahiliah sebelum rosul dilahirkan masyarakat menyembah berhala sebagai tuhan mereka, mereka buat sendiri dan mereka puja sendiri. Pada masa ini memang tidak banyak terlihat orang yang memuja patung berhala sebagai tuhan namun secara sadar ataupun tidak diantara kita masih memuja berhala dalam bentuk yang berbeda. Harta, pangkat dan teknologi menjadi bentuk lain berhala di masa ini.

Di masa jahiliah dulu wanita begitu dilecehkan, sampai-sampai kalau ada yang melahirkan anak perempuan maka saat itu juga langsung di bunuh. Begitu rendahnya nilai perempuan pada masa itu, lalu islam angkat harkat dan martabat perempuan pada pada posisi yang begitu mulya. Dijaman modern seperti sekarang ini dimana hak-hak antara laki-laki dan perempuan disejajarkan, emansipasi wanita wanita digembor-gemborkan bahkan menjadi simbol berdirinya sebuah Negara, namun sebenarnya masa ini masih juga jahiliah seperti yang dulu dahulu perempuan ditindas dan tidak dihargai, masa sekarang ini justru banyak wanita yang tidak mau dihargai sebagai wanita, kodrat kewanitaan malah menjadi sarana berbuat kedzaliman.

Padahal dalam Islam seorang wanita begitu dimuliakan, bahkan sorga berada di bawah kaki ibu, tapi kenapa tidak banyak dari mereka yang mau dihargai, mereka suka kalau aurat mereka dapat dilihat orang lain, dan tak jarang wanita yang senang akan pelecehan. Padahal begitu mahalnya harkat wanita hingga dalam Islam aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka, bahkan suara perempuan merupakan aurat. Kenapa ? penghargaan yang begitu tinggi disia-siakan.

Selanjutnya pada masa jahiliah dulu perjudian banyak digemari umat, masyarakat pada masa itu begitu pemalas dan suka menghamburkan uang dan kekayaannya hanya untuk berjudi. Pada masa sekarang ternyata perjudian tetap berlangsung bahkan bukan lagi ditingkat masyarakat bawah bahkan telah mendunia. Pada masa ini sudah menjadi hal yang biasa bahkan tidak merasa bahwa hal tersebut itu judi. Kuis-kuis di televisi kita anggap sebagai hiburan padahal sebenarnya kita tengah menyaksikan perjudian yang telah dilegalisasi, perjudian pada masa ini berawal dari keburukan malahan hal-hal kebaikan –pun bisa dijadikan sarana berjudi. Beberapa waktu lalu kita pernah menyaksikan pemilihan mubaligh (dai) pada sebuah stasiun TV, di dalam acara tersebut da’wah tidak lagi menjadi unsur utama tapi ketenaran dan kemenangan yang ditonjolkan, selain itu dukungan melalui SMS menjadi bumbu lain dalam acara tersebut. Apakah da’wah pada masa ini menjadi sebuah lahan bisnis semata ? padahal rosulullah mengatakan bahwa para ulama adalah penerusku, seperti apakah ulama yang rosul maksud ?

Berikutnya masyarakat pada masa jahiliah dulu suka akan mabuk mabukan, begitu pulalah pada masa ini bahkan di masa sekarang ini orang bisa mabuk tanpa harus minum minuman keras, pada saat ini kemabukan lebih parah disbanding masa itu, tidak lagi arak, tapi kekayaan, pangkat ataupun jabatan menjadi sarana lain untuk bermabuk-mabukan. Kemabukan tidak lagi dikalangan bawah tapi lebih banyak lagi di tingkat pemimpin negeri. Kemabukan akan kekayaan menjadikan korupsi sebagai bahannya untuk meraih kedudukan yang tinggi rakyat menjadi bahan komoditi.

Kejahiliahan pada masa ini lebih besar dan terstruktur disbanding masa lalu, pada hal pada masa ini rosul sudah diturunkan, kitab suci telah disempurnakan, tapi jaman millennium sekarang ini hanya tampak gemerlapnya saja tapi masyarakat di dalamnya begitu buta, tidak bisa melihat dan melakukan kebenaran. Masa ini merupakan masa jahiliah di masa modern.

Akankah kita tetap bertahan dalam posisi ini, dimana kejahiliahan terus merajalela dan menjadi bahan baku untuk kita sampai keneraka. Ataukah kita akan merubahnya untuk menjadi penerus rosul. Marilah kita renungkan.

AROGANSI WATAK MENUTUP JENDELA HATI

Pada dasarnya setiap orang memiliki sisi kebaikan, karena Tuhan telah memberikan kita hati yang tidak pernah dapat mengelak dari apa yang namanya kebaikan. Sifat egois muncul tatkala hati tidak terjaga maka yang tampil pada saat itu adalah hanya arogansi watak dan keegoisan. Kalaulah kita renungkan apakah yang pantas untuk kita banggakan apalagi disombongkan karena sebagai makhluk tuhan kita tak memiliki apa pun dan tak berhak untuk mengakui apapun juga sebagai milik kita.


Mungkin selama ini kita selalu merasa keadaan kita lebih baik dari orang lain, karena harta yang berada pada diri kita, kemudahan – kemudahan yang kita dapat sesungguhnya hanyalah titipan semata. Kalaulah kita analogikan seseorang yang kita percayaai untuk menjaga sesuatu yang kita titipkan kepadanya ternyata tidak menjaganya dengan baik malah merusaknya atau bahkan mengakui barangkita sebagai miliknya maka bagaimana perasaan kita, kemungkinan kita tidak akan mempercayai untuk kedua kalinya.


Begitupun Tuhan kepada kita tidak akan memberikan keberkahan kalau kita tidak bisa memanfaatkan dan menjaga apa yang telah dipercayakannya. Untuk itu kunci utama agar kita mampu menjaga apa yang dititipkan tuhan maka pertama-tama kita buka hati bahwa kita bukanlah apa – apa, luruskan niat agar tidak mengulang kesalahan, dan hindari sifat egois serta tidak lagi melakukan sesuatu hal hanya dengan akal pribadi.


Dengan menjalankan hal tersebut maka hati nurani kemanusiaan akan tampil menutup keegoisan, dan andai saja nurani seluruh rakyat Indonesia telah terbuka untuk menjadikan kebaikan dan kebenaran sebagai tujuan maka keberkahan di negeri ini akan mengalir dengan deras, tidak akan ada lagi orang mati karena kelaparan, orang mencuri karena tuntutan ekonomi, dan disisi lain tidak ada orang yang menghambur-hamburkan kekayaan untuk sekedar kemewahan.


Kesenjangan tidak akan terus bertambah jauh, karena dihati seseorang akan muncul toleransi pada sesamanya, maka sangat penting bagi kita untuk membuka hati dan menjauhkan keegoisan sebab kita harus menyadari kalau kita semua sama, tidak memiliki apapun dan tidak bisa mengakui apapun sebagai milik kita, hanyalah titipan yang selalu kita gunakan dan setiap titipan harus dikembalikan.


Oleh sebab itu kita jaga titipan itu terutama hati nurani ini, janganlah kita rusak dan disia-siakan.



PERLUNYA ANDIL HATI DALAM MENJALANKAN PROFESI

Setiap manusia hidup tentulah ada hal – hal yang diperlukan untuk mengisi kehidupannya, oleh karena itu berbagai profesi yang ada selalu penuh dengan persaingan. Hanya saja kebutuhan akan materi selalu menjadi hal yang diutamakan oleh kita tanpa melihat hal apa yang akan terjadi dan bagaimana akibat yang ditimbulkan.

Andai saja seseorang itu menyadari bahwa dibalik profesinya ada hal yang lebih berguna dari pada materi, saya ambil saja satu buah contoh profesi yang namanya begitu mulia yaitu guru. Seorang guru pada dasarnya memiliki lahan kebaikan yang begitu luas, ia menyebarkan ilmu di dunia ini untuk meningkatkan peradaban manusia.

Namun pada masa sekarang ini profesi guru menjadi rentan keberadaannya kebutuhan materi yang begitu tinggi dan pendapatan yang masih belum mencukupi, sehingga profesi itu tidak lagi dijalankan atas hati nurani tetapi dijalankan atas kebutuhan ekonomi.

Maka jika profesi seorang guru sudah tidak lagi didasari dengan keikhlasan hati, maka pantaslah ilmu yang di sebarkan pada anak didiknya tidak lagi melekat dan tidak lagi seorang guru menjadi panutan murid-muridnya. Oleh karena itu andil hati sangat diperlukan dalam menjalankan sebuah profesi, sehingga dalam menjalankan profesi tersebut kita akan mendapatkan berkah dan manfaat untuk kita dan pengguna profesi yang kita jalankan.

Penggunaan perasaan tersebut sangat diperlukan dalam berbagai profesi karena bobroknya negeri ini pun karena kurang andilnya hati pemimpin dan rakyat dalam posisinya. Keruntuhan negeri ini hanya tinggal menunggu waktu jika setiap orang tidak lagi menjalankan profesinya dengan hati nurani.

Oleh sebab itu marilah kita rintis sejak hari ini, dengan profesi apapun, dan dimanapun kita jalankan profesi kita dengan hati nurani sehingga kita akan mendapat hikmah dari apa yang telah kita lakukan.